Beranda ยป Wacana Krisis Pangan Ditengah Covid-19

Wacana Krisis Pangan Ditengah Covid-19

Wacana Krisis Pangan Ditengah Covid-19

Wabah pandemi Corona bukan hanya menimbulkan kekhawatiran mengenai kondisi kesehatan dan kematian. Namun dengan dilakukannya pembatasan sosial berskala besar atau lockdown dapat memicu rancunya sistem perekonomian dan mengakibatkan kelangkaan pangan karena produksi dan penjualan tidak lagi stabil. Dilansir dari situ CNN Indonesia, PBB telah mengingatkan bahwa pandemi virus corona (Covid-19) dapat mengancam pasokan pangan global karena berbagai negara melakukan pembatasan hingga lockdown sehingga rantai pasokan berpotensi terputus.

“Krisis pandemi yang berkepanjangan dapat membuat rantai pasok pangan menjadi kacau, di dalamnya terdapat jaringan rumit yang melibatkan petani, produk pertanian, pabrik pengolahan, pengiriman, pedagang ecerean, dan banyak lagi,” tulis laporan PBB dikutip dari CNN. Dalam laporannya, PBB menyatakan pembatasan pada industri pelayaran dan penerbangan telah mempersulit proses produksi pangan dan angkutan barang internasional. Kondisi ini membuat negara-negara yang minim sumber makanan alternatif memiliki risiko tinggi. Dengan wacana dan himbauan sedemikiran rupa harusnya menjadi bekal untuk seluruh masyarakat Indonesia mempersiapkan jalur alternatif apabila krisis pangan benar-benar terjadi. Meskipun kesejahteraan masyarakat menjadi tanggungan pemerintah, tidak bisa serta-merat kita menggantungkan harapan ke pundak mereka, karena kita sama-sama menyadari bahwa respon pemerintah selalu terlambat untuk merespon persoalan yang substantif dan mengancam kemaslahatan hidup rakyat.

Namun terlepas dari pada itu, terdapat beberapa jajaran pemerintah daerah yang cukup baik merespon wacana ini, salah satunya adalah petani di daerah Temanggung, Jawa Tengah yang telah dihimbau oleh Bupati Temanggung untuk meningkatkan penanaman bahan pangan. Langkah serupa patutnya menjadi contoh yang bijak untuk seluruh jajaran pemerintahan di tingkat kota/kabupaten di seluruh pelosok negeri untuk lekas bergerak meski intruksi dari pusat cenderung lambat. Daerah-daerah strategis pertanian harus disiapkan dengan maksimal untuk mengantisipasi krisis pangan dengan mulai memperbanyak tanaman pangan pokok.

Komite Keamanan Pangan Dunia (CFS) PBB mengatakan peningkatan ketidakstabilan suplai pangan dunia akan mempengaruhi kelompok masyarakat paling miskin. Bahkan, perusahaan dan organisasi swasta telah menyerukan tindakan segera untuk mengatasi ancaman pasokan pangan global. Untuk itu seluruh elemen kehidupan dalam negara harus bekerja sama mulai dari Pemerintah, pelaku usaha, masyarakat sipil, dan lembaga internasional perlu mengambil tindakan segera dan terkoordinasi untuk mencegah pandemi berubah menjadi krisis pangan dan kemanusiaan global.

Dengan datangnya himbauan dari PBB sudah sepatutnya kita memiliki kesiapan untuk menghadapi wacana tersebut, namun jangan sampai menimbulkan kepanikan dan berubah menjadi tindakan konsumtif yang tidak tepat seperti panic buying dan menjadi pelaku penimbunan. Hal sederhana untuk mengantisipasi wacana tersebut bisa dimulai dari diri sendiri atau keluarga kita untuk memanfaatkan lahan sekitar rumah dengan ditanami tumbuhan umbi-umbian yang bisa menggantikan beras jika sewaktu-waktu beras mengalami kelangkaan. Karena sebagai manusia kita akan tetap membutuhkan makanan pokok untuk bertahan hidup.

Sedangkan untuk masyarakat perkotaan yang tidak memiliki lahan bisa mengalihkan pusat pembelian pemenuhan kebutuhan ke UMKM yang ada, selain agar penimbunan tidak terjadi dan mengganggu harga pasar, UMKM dan koperasi adalah sebuah jalan untuk mengurangi kemiskinan, sarana meningkatkan perekonomian rakyat kecil dan memberikan pemasukan devisa bagi negara. Karena UMKM memiliki peran penting bagi perekonomian Indonesia karena memberikan sumbangan yang signifikan khususnya dalam pembentukan produk domestik bruto dan penyerapan tenaga kerja. UMKM juga dipercaya memiliki ketahanan ekonomi yang tinggi sehingga dapat menjadi penopang bagi stabilitas sistem keuangan dan perekonomian.

Mari melakukan yang terbaik, bukan hanya untuk diri kita tapi untuk bersama. Tetap jaga kesehatan dan jangan panik.


Penulis : Fatin| Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang. Angkatan 2016.

Tinggalkan Balasan